Baper Itu Dulu

Ih, kok mereka ngumpul-ngumpul tapi gak ajak aku sih. Apa aku sudah gak dianggap teman lagi? Apa aku sudah gak seasyik dulu (eh emang dulu asyik)?

Minimal basa basi kek, meski aku gak ikut ngumpul bareng mereka.” Protes batinku saat melihat postingan beberapa temanku yang berkumpul bersama.

Tapi suara hatiku yang lain ternyata tidak mau tinggal diam.

Eh, bukannya kemarin-kemarin mereka pernah ngajakin ya. Tapi kamu selalu nolak. Alasan gak bisa. Gak ada suami yang bakal bantuin jaga anak. Atau tidak setuju dengan lokasi nongkrong yang mereka usulkan”

Dua suara hati saling melontarkan pendapat yang menurutnya benar. Setelah berhenti bekerja, menikah dan punya anak, memang mengubah segalanya. Aku seperti menarik diri dari dunia.

Mungkin karena aku sedang menikmati peran baruku. Teman-teman yang masih belum menikah dan punya anak, belum tentu sejalan. Yang sudah punya anakpun kadang masih punya perbedaan pendapatkan?

Jujur saja, dulu aku baper. Sangat amat baper. Tapi aku segera menyadari, kalau memang aku tidak bisa seperti dulu lagi. Perubahan-perubahan yang kulakukan, belum tentu bisa diikuti teman-temanku.

Beruntung, aku masih bisa belajar dari teman-teman yang lain. Ya, aku perlu beradaptasi dengan peran baruku.

Dulu aku akan baper, kalau orang lain tidak sejalan dengan keinginanku. Tidak hanya teman, tapi juga keluarga. Yang paling sering berbeda pendapat adalah kakakku. Tapi karena kakak sendiri, bapernya hanya sebentar. Bisa jadi karena puluhan tahun sebelumnya kami kurang akrab. Saat dewasa, kami sangat dekat. Sehingga tak mau menyia-nyiakannya dengan adu debat.

Dulu aku baper, kalau ada ibu muda yang perjalanan menyusuinya tidak mulus sepertiku. Eh sudah diberi saran, eh tidak juga dilakukan. Huft.

Aku baper kalau suami tidak peka padaku. Aku inginnya suami segera paham tanpa aku mengatakan apapun.

Percayalah, itu dulu.

Sekaran aku lebih santai. Jika tiba-tiba mau baper, suara hatiku yang lain akan segera mengingatkan bahwa mereka bukanlah aku.

Aku tidak lagi baper melihat postingan teman-temanku yang nongkrong bersama. Toh, aku juga bisa nongkrong dengan sahabat-sahabat kecil yang saat ini mau menemaniku kapan saja.

Aku tidak lagi baper saat aku dan kakakku berbeda pendapat. Toh, keputusan yang diambil, sudah diyakini kalau itu terbaik.

Aku tak mau lagi memberikan saran tanpa diminta. Apalagi bukan orang yang sangat dekat denganku. Bahkan yang sudah dekat saja, aku masih mengamati. Apakah memang butuh saranku atau hanya minta didengarkan.

Baper akan selalu kurasakan kalau aku membiarkannya berlarut-larut. Sebaliknya akan segera teratasi jika aku mau melihat dari sudut yang lain. Melihat dari banyak sisi, agar aku bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s